Klik Terbuka | Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menargetkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat dari 74 tahun menjadi 76 tahun dalam lima tahun ke depan melalui transformasi layanan kesehatan primer yang menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif.
Target tersebut, menurut Menkes, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan kesehatan masyarakat sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.
“Pesan Presiden Prabowo kepada saya adalah memastikan masyarakat Indonesia tetap sehat,” ujar Budi Gunadi Sadikin saat peluncuran Program KITA Sehat, hasil kolaborasi Pemerintah Indonesia dan Australia, di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Budi menjelaskan bahwa peningkatan usia harapan hidup menjadi salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan kesehatan. Saat ini, usia harapan hidup masyarakat Indonesia berada pada kisaran 74 tahun, sementara di Australia telah mencapai sekitar 82–83 tahun. Pemerintah menargetkan peningkatan menjadi 76 tahun sebagai langkah awal menuju masyarakat yang lebih sehat dan produktif.
Menurutnya, untuk mencapai sasaran tersebut pemerintah mengubah paradigma pembangunan kesehatan dari pendekatan yang berfokus pada pengobatan menjadi sistem yang mengutamakan pencegahan penyakit.
“Prioritas utama adalah menjaga masyarakat tetap sehat. Upaya pengobatan tetap penting, tetapi pencegahan harus menjadi fokus utama agar masyarakat tidak jatuh sakit,” tegas Menkes.
Transformasi tersebut dilakukan melalui penguatan layanan kesehatan primer, mulai dari puskesmas, posyandu, hingga tenaga kesehatan di garis depan, seperti kader kesehatan, bidan, perawat, dan dokter puskesmas. Rumah sakit tetap memiliki peran penting, namun sistem kesehatan dinilai akan lebih efektif apabila masyarakat mampu menjaga kesehatannya sehingga kebutuhan layanan kuratif dapat ditekan.
Budi menambahkan, layanan kesehatan primer berfokus pada dua aspek utama, yakni promotif melalui edukasi pola hidup sehat dan preventif melalui imunisasi serta Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pemerintah juga mendorong masyarakat menerapkan pola makan bergizi seimbang, rutin berolahraga, serta mengurangi konsumsi makanan tinggi kalori.
Program Cek Kesehatan Gratis, lanjutnya, menjadi instrumen penting untuk mendeteksi secara dini berbagai penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, kanker, dan gangguan ginjal yang menjadi penyebab utama penurunan kualitas hidup masyarakat.
Selain itu, pemerintah terus memperkuat intervensi di bidang gizi, baik untuk mengatasi stunting pada anak maupun meningkatnya kasus kelebihan gizi pada kelompok usia dewasa.
Dalam kesempatan tersebut, Menkes juga mengajak seluruh mitra pembangunan, termasuk Pemerintah Australia, WHO, dan UNFPA, agar setiap program kesehatan memiliki target yang jelas, terukur, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kalau cakupan imunisasi masih di bawah 85 persen, mari kita tingkatkan hingga melampaui 90 persen. Demikian pula Program Cek Kesehatan Gratis harus diikuti dengan tindak lanjut, mulai dari perbaikan gizi hingga pengendalian tekanan darah dan gula darah. Dengan cara itulah masyarakat dapat hidup lebih sehat,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Budi mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis secara rutin setiap tahun sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan meningkatkan usia harapan hidup.
“Jangan lupa melakukan cek kesehatan secara rutin setiap tahun. Langkah sederhana ini penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini sekaligus menjaga kualitas hidup agar tetap sehat lebih lama,” ujar Menkes. (rp)

